Maskapai Bungkam, Menhub Geram

Insiden Fairing Jatuh
JAKARTA – Insiden jatuhnya fairing mesin pesawat di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta Selasa (4/12) membuat administrator bandara (adban) geram. Pasalnya, sampai tadi malam belum ada satu pun maskapai mengaku pemilik benda yang berfungsi sebagai penutup sambungan antara sayap dan badan pesawat itu.

Kepala Administrator Bandara Soekarno-Hatta Herry Bhakti mengatakan, dari nomor suku cadangnya bisa diketahui fairing itu bagian dari jenis mesin tertentu. Hasil penyelidikan sementara, ditemukan bukti bahwa serpihan itu dari pesawat jenis MD-90 atau Airbus A-319. “Pemilik pesawat jenis tersebut hanya tiga maskapai, yaitu Lion Air, Batavia Air, dan Mandala Airlines,” ujarnya kemarin.

Lion Air memiliki lima pesawat MD-90. Tiga pesawat buatan 1996 dan dua buatan 1997. Sementara itu, Batavia Air dan Mandala Airlines masing-masing memiliki dua pesawat Airbus A-319 yang rata-rata buatan 2005. “Hingga sekarang di antara ketiga maskapai itu belum ada yang mengklaim benda tersebut,” jelasnya.

Herry menyebutkan, kini bagian pesawat yang menyerupai knalpot itu berada di kantor Adban. Benda itu akan diselidiki bersama inspektur dari Direktorat dan Sertifikasi Kelaikan Udara (DSKU) Ditjen Perhubungan Udara Dephub. Menurut dia, pihak Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) belum turun ke lapangan karena belum jelas siapa pemilik barang tersebut. “Mereka belum turun. Tapi, semua informasi telah mereka ambil untuk bahan penyelidikan selanjutnya,” ungkap Herry. Menurut dia, seharusnya pihak maskapai tidak takut mengakui insiden tersebut. “Belum berarti hal itu disebabkan kesalahan maskapai. Bisa karena kelalaian operator atau material pesawat yang tidak bagus,” tegasnya.

Otoritas Bandara Soekarno-Hatta menemukan fairing pesawat di landas pacu 07 (ke arah 7 derajat) bagian selatan bandara Selasa sekitar pukul 07.30 WIB. Adban masih kesulitan mengetahui pemilik fairing mesin pesawat tersebut karena pemakai terminal I keberangkatan cukup banyak. “Ada 12 maskapai yang memakai terminal I. Tapi, kalau penuh Garuda juga masuk ke situ,” ungkap Herry.

Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mengaku sudah mendapat laporan mengenai copotnya fairing cover pesawat tersebut. Dia mengaku gemas karena sampai kemarin belum ada maskapai yang mengaku bertanggung jawab. Untuk menindaklanjuti kasus itu, kata Menhub, pihaknya akan bertindak seperti kasus Batavia Air beberapa waktu lalu. “Akan kita lihat apakah ada maintenance procedure yang dilanggar, kemudian apakah ada kelalaian. Nanti kalau ada kelalaian, kita beri tindakan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Puskom Publik Dephub Bambang S. Ervan mengatakan, pihak Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara (DSKU) Ditjen Perhubungan Udara Jumat (7/12) mengumpulkan semua maskapai di Bandara Soekarno Hatta untuk dimintai keterangan. “Inspektur sudah turun, tapi belum ada perkembangan maskapainya apa.” (JP)