Ebraska -
Penyalahgunaan senjata api oleh kaum muda usia di AS kembali menelan korban. Seorang remaja yang diketahui ingin tewas dan “terkenal” kali ini menumpahkan isi senjatanya membabi buta kepada pengunjung shopping mall wilayah Omaha, negara bagian Nebraska, sekitar pukul 13.50 siang Rabu (5/12) waktu setempat, sebelum mengesekusi diri.

Robert A. Hawkins (19) meninggalkan sebuah catatan kematian di rumahnya. Dari keterangan pihak berwajib, catatan itu menjelaskan bahwa dirinya ingin tewas dengan “gaya keren”. Saksi mata mengatakan pelaku beraksi dari balkon lantai tiga pertokoan Von Maur di Westroads Mall.

Kepada televisi, saksi mengatakan pelaku menembak sebuah boneka beruang sebelum memberedelkan tembakan menuju pengunjung. Ia ditemukan sudah tidak bernyawa di lantai tiga dengan luka tembak dan para korbannya bersimbah darah tergeletak di lantai dua dan tiga.

“Lutut saya bergetar dan tak tahu harus berbuat apa. Saya hanya berlari tanpa menghiraukan apa pun bersama yang lainnya,” tutur Kevin Kleine (29) yang berbelanja bersama anaknya usia 4 tahun. Ia lantas bersembunyi di sebuah ruang ganti bersama empat pengunjung lainnya dengan perasaan takut tidak karuan.

Sersan Teresa Negron mengatakan pelaku membunuh delapan orang lalu bunuh diri. Pihak pemerintah juga belum memberikan keterangan jelas motif dari serangan dan tidak tahu apakah pelaku mengatakan sesuatu dalam insiden berdarah itu.

Kepala polisi Omaha, Thomas Warren, menjelaskan kasus seperti ini “sangat jarang terjadi di wilayahnya dan berlangsung tanpa provokasi.” ”Kami percaya hanya ada satu pelaku saja,” imbuhnya. “Kami juga memiliki catatan bunuh diri, namun saya tidak bisa menjelaskan isi catatan tersebut. Kelihatannya pelaku sudah merencanakan aksinya.”

Banyak Masalah

Dari penuturan teman-temannya, Robert Hawkins memiliki catatan depresi namun psikologinya semakin membaik setelah pindah bersama seorang teman keluarga sekitar setahun silam. ”Namun, dua pekan lalu ia putus dengan pacar yang sudah lama diajaknya dan pekan ini dipecat dari pekerjaan di sebuah restoran cepat saji,” papar seorang perempuan yang keluarganya mengajak Hawkins.

“Ia selalu depresi dan selalu begitu,” jelas perawat operasi Debora Maruca-Kovac, yang keluarganya mengajak Hawkins karena bersahabat dekat anak-anaknya. Hawkins terpaksa tinggal dengan mereka setelah diusir dari rumahnya, namun Maruca-Kovac tidak mengetahui mengapa keluarganya sampai melakukan tindakan tersebut.

Hawkins yang meraih GED (Generdal Education Development) setelah keluar dari SMU Papillion-La Vista, mendapat SIM pascakepindahannya menuju keluarga Maruca-Kovac. Lima bulan lalu ia juga mulai bekerja di restoran cepat saji dekat tempat tinggalnya di perumahan kelas menengah sekitar Bellevue.

Hawkins sendiri tidak mengonsumsi obat-obatan untuk sakit jiwa, namun ia pernah dirawat akibat depresi serta memiliki attention deficit/hyperactivity disorder (Bali Pos)