Ponsel Mania


“Halo siapa ini? Oh Ibu Dini…ada apa Bu?… Iya sekarang saya lagi di Roxy, nyari handphone buat anak saya. Oke.. oke, Bu. Nanti saya telepon lagi ya Bu… Bye.”
Sudah akrab, kan, dengan model percakapan di atas? Bisa tebak pakai apa Ibu tadi menerima telepon temannya? Ya, betul…dengan telepon seluler alias ponsel atau HP (handphone). Saat ini ponsel sudah bukan barang aneh lagi. Makin banyak orang yang kini memakainya.
Ponsel memang sudah menjadi kebutuhan hidup sehari-hari bagi sebagian orang, dan mungkin juga Anda. Wajar saja, mengingat dengan alat komunikasi ini Anda bisa menelepon siapa saja dan dari tempat Anda berada. Sebaliknya, Anda juga bisa dihubungi di mana saja.
Lewat tulisan ini, saya akan mencoba berbagi pengalaman tentang membeli ponsel (disini saya hanya akan membatasi tulisan pada handset-nya, sedangkan mengenai kartunya mungkin akan dibahas pada kesempatan lain). Tulisan ini terutama ditujukan pada Anda yang baru mau membeli ponsel atau yang mau ganti. Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan.

1. Tentukan kebutuhan ponsel Anda dan sesuaikan dengan keuangan Anda.
Sekarang hampir tiap bulan keluar seri ponsel baru dari merek yang berbeda-beda. Masing-masing punya keistimewaan sendiri. Makin lengkap fasilitas, makin mahal juga harganya. Kalau saya sendiri Bapak-Ibu, terus terang hanya butuh HP buat menelepon dan kirim SMS.
Jadi, saya tidak merasa butuh HP yang mahal-mahal dengan fasilitas yang aneh-aneh. Buat apa saya beli kalau nantinya enggak ada yang saya pakai. Sebagai contoh, fasilitas game atau permainan di HP biasanya jarang sekali digunakan, sebagus apa pun game-nya. Atau fasilitas dering yang bisa lagu atau polytone, yang kalau dipikir-pikir fungsinya sebetulnya sama saja, mau bunyi apa pun.
Lain kalau ada ponsel murah yang memori penyimpan nomer teleponnya bisa muat lebih banyak, saya mau membelinya, karena saya memang memerlukannya buat menyimpan nomor telepon rekan-rekan saya. Jadi di sini, Andalah yang pegang kendali, tentukan kebutuhan Anda, lalu putuskan ponsel yang sesuai kebutuhan tadi.
2. Cari referensi tentang ponsel yang sesuai
Sekarang Anda sudah tahu kebutuhan dan anggaran dana yang Anda punya, sekarang kenapa kita tidak mencoba mencari seri dan merek apa yang sesuai dengan kebutuhan Anda tadi. Anda bisa mencari tahu lewat iklan di koran, internet, atau sembari berjalan-jalan di pertokoan. Anda juga bisa mencari referensi lewat teman Anda yang cukup mengerti tentang HP.
Nah, sewaktu Anda mencari referensi, coba cari tahu tentang fitur-fiturnya (manfaat yang diberikan), harga jual barunya dan bagaimana prospek dari merek itu bila kita ingin menjual kembali, apakah harga bekasnya nanti kira-kira akan turun jauh atau tidak. Kalau Anda jenis orang yang suka gonta-ganti HP tiap 3 – 6 bulan sekali, tentu saja Anda harus mencari HP yang harga jual bekasnya tidak terlalu jauh dari harga baru.
3. Tentukan di mana Anda akan membelinya dan lakukan tes disana.
Di mana Anda akan beli handphone? Di agen resmi? Toko biasa, atau di Pusat Perbelanjaan seperti ITC Roxy di Jakarta? Tipsnya, kalau Anda mau membanding-bandingkan harga antar satu toko dengan toko yang lainnya, datang saja ke pusat belanja HP. Di sana kita bisa membandingkan harga dan pelayanan penjualnya. Biasanya disana juga banyak referensi tentang ponsel bekas.
Tapi kalau Anda hanya mau perlu beli HP sederhana atau “pasaran” (biasanya harganya tak jauh beda antara satu toko dan yang lainnya) dan rumah Anda jauh dari pusat belanja, jangan lupa untuk memperhitungkan juga biaya transpor Anda ke sana. Jangan-jangan hitungan totalnya malah lebih mahal daripada kalau Anda membelinya di toko dekat rumah Anda.
Begitu Anda sudah membeli HP yang Anda inginkan, jangan lupa untuk mencobanya sekalian di sana. Biasanya saya selalu minta ponsel beserta SIM cardnya diaktifkan langsung oleh si penjual. Sekalian juga minta diajari cara pemakaian serta fungsi-fungsinya.
4. Selalu minta garansi untuk mengurangi masalah di kemudian hari.
Kenapa saya bilang begitu? Karena tidak ada di antara kita yang mau pusing nantinya kalau HP kita rusak. Jadi, kalau kelak ponsel kita bermasalah, bawa saja lagi ke si penjual itu lagi. Harapannya, supaya mereka bisa mereparasi atau menggantinya. Itu gunanya garansi. Nah, sekarang ada lagi kan kaitannya dengan beli HP di tempat yang mudah dijangkau dari rumah? Sehingga kalau ada apa-apa kita bisa cepat pergi ke tempat itu tanpa keluar ongkos berlebihan. Garansi menjadi sangat penting apabila barang yang kita beli adalah model yang canggih, di mana sangat susah mencari tempat reparasinya, atau kalau pun ada, ongkosnya jadi sangat mahal.
5. Beli saja yang bekas kalau dana Anda terbatas
Tak ada salahnya kalau Anda beli yang bekas kalau memang dana Anda tidak cukup untuk membeli yang baru. Cuma harus diingat, beli ponsel bekas bisa seperti seperti beli kucing dalam karung, karena kita sering tidak tahu riwayat dan kondisi kucingnya.
Memang terkadang ada HP bekas yang masih bergaransi. Tapi kebanyakan tidak. Nah, kalaupun Anda harus membeli yang bekas, belilah ke toko yang penjualnya sudah Anda kenal baik. Jadi, faktor insting dan kepercayaan akan jadi semakin penting dalam membeli HP bekas. Bila Anda baru kali ini beli ponsel, mungkin lebih baik ajak teman yang bisa dipercaya yang mungkin punya kenalan atau langganan toko HP.
Jadi, siap beli handphone? Mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu Anda.(Nova)

11.jpeg Anda tentu ingat dengan iklan sosialisasi 3G dilayar kaca yang mengetengahkan dialog antara seorang anak kecil dengan kakeknya.“Halo kek, aku ingin takbiran bersama kakek”.Singkat cerita mereka takbiran bersama.Padahal mereka berada di tempat yang berjauhan.Namun dengan Video call mereka bisa saling bertatap muka.

Ya,Video call adalah salah satu “oleh-oleh” yang dibawa 3G.Masyarakat pengguna seluler Indonesia mendapat “mainan”baru berupa layanan 3G setelah beberapa operator telekomunikasi pemegang lisensi seperti Telkomsel,Hutchinson CP Telekomunication (dulu CAC),XL dan Indosat melaksanakan ULO (Uji Laik Operasi).

4.jpeg

Walaupun demikian baru XL dan Telkomsel yang telah menggelar layanan 3G secara komersil.Apakah layanan 3G di Indonesia akan lebih baik ketimbang layanan 3G Di beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat? Kita akan menengok layanan ini di Amerika sekaligus melihat secara langsung penerapan layanan 3G di negeri paman sam.Kenapa Amerika? Karena Negara ini,teknologi 3G ala GSM maupun CDMA berjalan beriringan dan menimbulkan persaingan usaha yang sehat antara operator.

3G GSM ala Cingular

5.jpeg

Ketika pertama kali diluncurkan di Eropa,banyak konsumen yang tadinya berharap banyak akan teknologi ini kecewa dengan kualitas video call yang buruk.Belum lagi siaran televisi dari penyedia konten sering drop dan terputus.
Seperti kita ketahui,layanan 3G bisa video call,PTT (Pust-To Talk),PTV (Pust-To View),bahkan akses internet dan data berkecepatan tinggi.Cingular sebagai operator 3G terbesar di Amerika selain membebani pelanggannya dengan biaya langganan perbulan,Cingular juga menerapkan tarifnya dengan berdasarkan besaran kilobyte data yang digunakan.

Jika anda menonton siaran olahraga,berita terkini,film Holywood terbaru hingga perkembangan saham Wall Street,Anda akan dikenai biaya langganan untuk paket mobile-TV standar seharga 29.95 dolar AS perbulan.Biaya ini belum termasuk biaya pemakaian pulsa/sms dan biaya lain-lainnya.
Intinya,pelanggan hanya membayar apa yang ingin digunakan.Soal kualitas bagaimana?
6.jpeg

3.jpeg