Anda tentu ingat dengan iklan sosialisasi 3G dilayar kaca yang mengetengahkan dialog antara seorang anak kecil dengan kakeknya.“Halo kek, aku ingin takbiran bersama kakek”.Singkat cerita mereka takbiran bersama.Padahal mereka berada di tempat yang berjauhan.Namun dengan Video call mereka bisa saling bertatap muka.
Ya,Video call adalah salah satu “oleh-oleh” yang dibawa 3G.Masyarakat pengguna seluler Indonesia mendapat “mainan”baru berupa layanan 3G setelah beberapa operator telekomunikasi pemegang lisensi seperti Telkomsel,Hutchinson CP Telekomunication (dulu CAC),XL dan Indosat melaksanakan ULO (Uji Laik Operasi).
Walaupun demikian baru XL dan Telkomsel yang telah menggelar layanan 3G secara komersil.Apakah layanan 3G di Indonesia akan lebih baik ketimbang layanan 3G Di beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat? Kita akan menengok layanan ini di Amerika sekaligus melihat secara langsung penerapan layanan 3G di negeri paman sam.Kenapa Amerika? Karena Negara ini,teknologi 3G ala GSM maupun CDMA berjalan beriringan dan menimbulkan persaingan usaha yang sehat antara operator.
3G GSM ala Cingular
Ketika pertama kali diluncurkan di Eropa,banyak konsumen yang tadinya berharap banyak akan teknologi ini kecewa dengan kualitas video call yang buruk.Belum lagi siaran televisi dari penyedia konten sering drop dan terputus.
Seperti kita ketahui,layanan 3G bisa video call,PTT (Pust-To Talk),PTV (Pust-To View),bahkan akses internet dan data berkecepatan tinggi.Cingular sebagai operator 3G terbesar di Amerika selain membebani pelanggannya dengan biaya langganan perbulan,Cingular juga menerapkan tarifnya dengan berdasarkan besaran kilobyte data yang digunakan.
Jika anda menonton siaran olahraga,berita terkini,film Holywood terbaru hingga perkembangan saham Wall Street,Anda akan dikenai biaya langganan untuk paket mobile-TV standar seharga 29.95 dolar AS perbulan.Biaya ini belum termasuk biaya pemakaian pulsa/sms dan biaya lain-lainnya.
Intinya,pelanggan hanya membayar apa yang ingin digunakan.Soal kualitas bagaimana?
